Senin, 23 Januari 2017

Kisah Cinta Tan Malaka


Romantisme Sang Kiri Nasionalis di Tengah Perjuangan Merebut Kemerdekaan 100% Menuju Republik dari Keterpasungan Kolonialisme dan Imperialisme. Kisah cinta Tan Malaka sama tragis dengan hidupnya yang Klandestin. Mengidamkan sosok Kartini,  ditolak dua kali oleh perempuan yang sama.



Rapat tetua adat Negara Pandan Gadang,  Lima Puluh Kota berlangsung sengit. Ibrahim, yang belum genap 17 tahun menolak gelar Datuk. Padahal dia anak lelaki tertua keluarga Sumatera yang harus memangku gelar itu sebelum ayahnya meninggal, “Ibunya memberi pilihan: menolak gelar atau kawin” kata Zulfikar Kamaruddin, 60 tahun, keponakan Ibrahim, kepada Tempo pada Juli lalu. Ibrahim menyerah dan menerima gelar tertinggi dalam adat Minang itu. Maka nama lengkapnya menjadi Datuk Tan Malaka. Sebagai Datuk, ia membawahkan keluarga Simabur, Piliang dan Chaniago. Pesta penobatannya pada 1913 digelar tujuh hari tujuh malam. Pesta itu sekaligus penyambutan orang rantau yang baru lulus sekolah raja (Kweekschool) di Bukittinggi dan pesta perpisahan. Sebab, Datuk muda itu akan segera ke Belanda.Ibrahim mendapat beasiswa sekolah guru di Rijksweekschool, Haarlem. Hal ini berkat jasa baik guru Belanda yang mencintainya: Gerardus Hendrikus Horensma, setelah uang saweran orang sekampung tak cukup untuk ongkos Ibrahim. Rupanya, penolakan Ibrahim terhadap permohonan yang diatur Sinah, ibunya, ada bersebab. Telah ada gadis lain di hatinya: Syarifah Nawawi, anak keempat Nawawi Sutan Makmur, guru bahasa Melayu di Kweek yang membantu Charles van Ophuijsen menyusun Kitab Logat Melajoe (dikenal sebagai tata bahasa Ophuijsen) pada 1901. Syarifah adalah perempuan Minang pertama yang mengecap pendidikan ala Eropa, ada 75 murid disana. Menurut Gedenkboek Kweekschool 1873-1908, Syarifah dan Ibrahim angkatan 1907. Jumlah murid di kelas mereka 16 orang. Syariah menjadi kembang karena satu-satunya perempuan di sekolah yang kini menjelma jadi SMA Negeri 2 Bukittinggi itu. Dan Ibrahim satu dari tiga siswa yang melanjutkan studi ke Belanda. Ibrahim dan Syariah pun terpisah ribuan mil. Tetapi itu bukan halangan bagi sang Datuk untuk terus menjalin hubungan. Ia rajin mengirim surat kepada Syarifah yang melanjutkan studi sekolah guru di Salemba School, Jakarta. Tetapi cinta itu ternyata bertepuk sebelah tangan. 

Menurut sejarawan Belanda yang menulis biografi Tan Malaka, Harry A. Poeze, Syarifah tak pernah sekali pun membalas surat surat itu. “Tan Malaka? Hmmm dia seorang pemuda yang aneh,” begitu katanya kepada Poeze sewaktu mereka bertemu pada 1980. Syarifah tak menjelaskan dimana keanehan orang yang menaksirnya itu. Syarifah kemudian menikah dengan R.A.A. Wiranatakoesoema, Bupati Cianjur yang sudah punya lima anak dari dua selir, pada 1916. Maka munculah anekdot di keluarga dan di kalangan penulis sejarah Tan Malaka: Tan menjadi Marxis karena kegagalannya dalam cinta pertama. Di menjadi amat anti Borjuis dan anti Feodal untuk melawan orang yang merebut pujaan hatinya. “tetapi ini cuma anekdot,” kata sejarawan Bonnie Triyana. Tan kemudian mulai membuka hatinya untuk gadis lain: Fenny Struyvenberg, mahasiswi kedokteran berdarah Belanda. Dia terlihat sering datang ke pondok Tan. Bersama Fenny, Tan kabarnya menjalin hubungan cukup serius, Fenny bahkan sempat ke Indonesia menyusul Tan. Sayang, tak ada banyak catatan dan keterangan soal hubungan mereka. Fenny keburu meninggal saat akan ditemui Poeze.

Di Rusia, sewaktu menghadiri sidang Komunis Internasional dan tinggal tiga tahun, Tan diberitakan sempat berhubungan dengan seorang perempuan sana. Menurut Poeze, ada satu koran yang menulis hubungan percintaan Tan dengan perempuan tersebut. Tan Malaka memang selalu punya hubungan mendalam dengan perempuan di setiap negara yang ia kunjungi. Dibalik cerita heroiknya berpindah dari satu negara ke negara yang lain dalam pelarian, selalu muncul sosok perempuan: yang menolong, yang merawat tubuhnya yang sakit, atau sekadar teman. Dalam memoarnya, Dari Penjara Ke Penjara Tan menulis nama-nama perempuan disekolah hidupnya. Tetapi tak ada penjelasan apakah hubungan itu juga di landasi cinta?. Di Kanton, misalnya, ia menyebut “Nona Carmen”, anak perempuan Rektor Universitas Manila yang memberi petunjuk masuk Filipina, merawat, dan mengajarinya bahasa Tagalog. Di Cina, pada 1937, ada gadis 17 tahun yang ia sebut AP sering datang mengadu dan meminta diajari bahasa Inggris.

Sesudah Proklamasi 1945, Tan yang tak lagi Klandestin tersiar punya hubungan serius dengan Paramita Rahayu Abdurrachman. Perempuan 25 tahun ini keponakan Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo. Dia tinggal di pavilliun rumahnya di Cikini. Tan sering datang kesana. Saking lengketnya mereka, teman-teman dekatnya menganggap Paramita tunjangan Tan. Padahal umur mereka terpaut 26 tahun. Kepada Poeze yang menemui Paramita pada 1980, perempuan yang tak menikah hingga meninggal pada 1986 itu mengaku mencintai Tan. Namun “pertunangan” itu tak sampai ke jenjang pernikahan. Situasi politik membuat Tan kembali harus lari bersembunyi dari kejaran Kenpetai Jepang, hubungan merek pun retak. Lagi pula, kata Paramita kepada Poeze, Tan Malaka orang yang hidup tak normal. “dia kelewat besar buat saya,”  katanya.  “dia menginginkan saya seperti sosok Raden Ajang Kartini.” ironisnya, ibu Paramita tak lain teman karib Syarifah Nawawi, Minarsih Soedarpo Wiranatakoesoema, anak bungsu Syarifah, sama-sama aktif di Palang Merah Indonesia dengan Paramita.“ibu saya cuma bilang kenal Tan sewaktu di Kweekschool,”  kata Minarsih 84 tahun. Paramita, sebetulnya waktu itu menaksir pemuda Hatta, yang juga sering berkunjung ke rumah Soebardjo. Syarifah sudah menjadi janda dengan tiga anak. Wiranatakoesoema menceraikannya pada 1924 karena menganggap Raden Ayu ini tak bisa mengikuti tata Krama Sunda yang amat Feodal. Cinta lama Tan pun bersemi kembali. Menurut Minarsih, Tan mendatangi ibunya dan meminang, tetapi lagi-lagi ditolak. Lalu siapa perempuan yang betul-betul dicintai Tan Malaka seumur hidupnya? Syarifah? Sepertinya bukan. Syahdan, suatu hari Adam Malik—koleganya di Persatuan Perjuangan yang menjadi wakil presiden pada zaman Soeharto—bertanya kepada Tan Malaka, “Bung, apa bung pernah jatuh cinta?”  Tan, seperti ditulis Adam dalam Mengabdi Republik,langsung menjawab, “pernah, Tiga kali malahan. Sekali di Belanda, sekali di Filipina, dan sekali lagi di Indonesia. Tetapi, yah, semua itu katakanlah hanya cinta yang tak sampai, perhatian saya terlalu besar untuk perjuangan.”, S.K. Trimurti, Menteri Perburuhan pada zaman Soekarno, menyatakan itu jawaban jujur Tan Malaka. Kepada Poeze, Trimurti bercerita, Tan yang dipanggil “macam” sewaktu di Belanda relatif “bersih” dalam urusan asmara. “Beliau belum pernah bicara soal perempuan dalam hubungannya dengan tuntutan seks,”  tulisnya dalam Peringatan Sewindu Hilangnya Tan Malaka (1957).

Itu pula sebabnya, ketika tetua adat Pandan Gadang “melelang”-nya dalam upacara perjodohan sewaktu ia pulang dari Belanda pada 1919, Tan menolak banyak pinangan. Setelah tak tahan mengajar di sebuah perusahaan perkebunan di Deli, si Macan menyiapkan keberangkatannya ke Semarang. Dia menyongsong hidup dan kematiannya yang “lebih dahsyat ketimbang fiksi”  mengutip kalimat Poeze.




Didit Ryandico, 5 Agustus 2016

1 komentar:

  1. AGENS128 Adalah Situs Judi Online Taruhan Sepak Bola, Casino, Sabung Ayam, Tangkas, Togel & Poker Terpopuler di Indonesia
    Pasang Taruhan Online Melalui Agen Judi Terpercaya Indonesia Agens128, Proses Cepat, Banyak Bonus, Online 24 Jam dan Pasti Bayar!
    Sabung ayam
    sbobet online
    casino online
    tembak ikan
    daftar bisa langsung ke:
    LINE : agens1288
    WhatsApp : 085222555128

    BalasHapus